Resep Soto Mi Bung Roby

By | February 27, 2019

Hujan deras akhir-akhir ini yang mengguyur Jakarta di sore hari benar-benar membuat susah bagi karyawan kantoran seperti saya yang menggunakan transportasi umum. Hujan yang turun dipukul tiga atau empat sore, kadang berhenti dipukul lima atau lanjut hingga malam meninggalkan kemacetan parah yang luar biasa. Selain karena faktor banjir atau genangan air dimana-mana, juga karena karyawan yang menunggu hujan reda akan bersamaan keluar kantor saat langit terang. Minggu lalu adalah rekor kemacetan terparah yang terjadi selama beberapa bulan ini, jalanan didepan kantor yang sarat dengan mobil total tak bergerak, akibatnya tak ada satupun angkutan umum entah itu angkot kecil atau bis Transjakarta yang lewat. 

Satu jam lamanya ditepian jalan akhirnya saya menyerah dan berjalan ke mal Lotte Avenue yang tak jauh dari kantor. Menuju ke food court, membeli seporsi tahu gejrot yang tobat mahalnya dan seporsi dimsum, saya duduk disana hingga jam sembilan malam. Ketika keluar mal, jalanan yang tadinya macet kini lengang dan saya melenggang ke jalan Sudirman menuju stasiun MRT. Jika bekerja di Jakarta dan tak ingin terjebak macet parah maka pulanglah sebelum pukul lima sore atau sekalian diatas jam sembilan malam. Diantara waktu-waktu tersebut maka alamat akan sia-sia menghabiskan waktu dijalan.

Lantas apa yang saya lakukan berjam-jam di food court? Browsing, tentunya. Setelah seporsi dimsum habis, tahu gejrot masuk ke dalam perut dan segelas thai tea hanya tinggal es batunya saja maka hanya internet yang menyibukkan saya selama dua setengah jam di mal. Bukan hanya saya seorang yang melewatkan waktu dengan cara seperti itu, semua kursi di food court hampir penuh, sebagian besar berisikan mereka yang sedang menikmati makan malam, dan sebagian lagi adalah mereka yang sedang membunuh waktu menunggu jalanan lengang. Seorang wanita dengan tampilan stylish dan berwajah cantik duduk tidak jauh dari kursi saya. Jemari langsingnya menggenggam sebuah novel tebal dan tatapan matanya fokus ke arah buku. Hm, sepertinya membawa sebuah buku atau novel di tas adalah solusi bagus untuk membuang waktu seperti ini dibandingkan browsing internet di handphone. Sejak semakin aktif menggunakan smartphone untuk menonton video dan bersosmed ria, minus dimata saya semakin parah bahkan kini kaca mata mulai permanen dikenakan. Sayangnya walau banyak buku keren di rak buku di kamar, saya selalu lupa memasukkan sebuah buku ke dalam tas. 😏

Walau banyak toko-toko dan hal menarik lainnya di mal yang bisa dilihat, namun saya biasanya lebih suka nongkrong disatu tempat atau kafe untuk menghabiskan waktu dibandingkan melihat-lihat aneka barang di toko. Window shopping memang menarik, tapi saya ngeri dengan kadar iman dalam menahan diri untuk tidak membeli satu atau dua barang. Seringkali satu atau dua barang berakhir dengan sekantung besar belanjaan yang menguras ATM dan membuat saya menyesal kemudian. Saya termasuk mudah dibujuk untuk membeli sesuatu, jadi total menghindarinya adalah pilihan terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *