Resep Nugget Ayam Oatmeal By Rasya

By | November 15, 2018

Mendapat undangan kawinan bagi saya adalah hal yang meresahkan. Bukan karena sebal ditanya dengan pertanyaan, “Kapan menyusul?” Sejak usia semakin menua, tidak ada lagi yang berminat mengajukan pertanyaan ini ke saya, tapi karena bingung dengan pakaian yang harus dikenakan. Saya bukanlah orang yang senang mengoleksi pakaian resmi seperti gaun, kebaya atau baju pesta lainnya, tidak juga memiliki tas imut cantik atau clutch lucu yang serasi ditenteng kala acara resmi seperti kawinan, atau sandal dan sepatu shiny pelengkap busana. Saya tidak memiliki benda-benda itu karena jarang digunakan, terlalu gerah dipakai dan sama sekali tidak praktis, serta terlalu girly untuk selera saya yang macho. 

Jadi ketika undangan kawinan mendarat di meja, dan itu sudah berkali-kali terjadi, saya memilih menarik selembar amplop, mengisinya dengan uang sumbangan dan menitipkannya ke teman yang datang. Untungnya beberapa rekan kantor sangat rajin datang ke acara kawinan, bahkan walau jaraknya jauh sekalipun. Jadi acara menitip amplop ini tidak pernah mengalami kendala dan saya selalu memiliki alasan, “Aduh rumah aku jauh banget dari lokasi.” Alasan ini memang tidak dibuat-buat, rata-rata teman-teman kantor memiliki rumah di daerah Jakarta Timur dan Utara yang jaraknya lumayan jauh dari rumah saya di Jakarta Selatan.

Tapi Minggu lalu saya mendapat undangan perkawinan dari rekan kantor yang duduk tidak jauh dari meja kerja saya. Acara pernikahannya diselenggarakan di Wisma Bhayangkari, jaraknya cukup dekat dari rumah. Walau ingin rasanya saya mengeluarkan alasan penolakan seperti ada acara keluarga dan lain sebagainya, namun hati ini tak enak juga. Akhirnya saya putuskan untuk datang. Ketika kata janji akan datang itu terucap ke teman yag menyodorkan undangan, saya langsung menyesalinya. Datang ke kondangan, berarti harus berpikir mengenai pakaian yang akan dikenakan, sepatu atau sandal dan tas kecil atau clutch. Saya berusaha mengingat-ingat koleksi di lemari pakaian dan rak sepatu, sepertinya tidak ada yang cocok buat menghadiri pesta perkawinan di gedung. 

Resepsi pernikahannya jatuh pada hari Minggu jam sebelas siang. Pukul sembilan pagi sehabis mandi, saya mendeprok didepan lemari pakaian dan sepatu, membongkar apapun yang bisa ditemukan. Akhirnya saya menarik selembar baju brokat biru yang dibeli beberapa tahun yang lalu, ketika dicoba masih masuk ke dalam badan yang melar. Tak punya celana hitam bagus yang pas buat menemani si brokat, terpaksa celana jeans hitam dikeluarkan dari lemari. Masalahnya adalah hendak diletakkan dimana uang, kartu, dan handphone? Wiwin, adik saya, pernah memberikan sebuah clutch hitam bertahun nan lampau, tapi hingga basah kuyup jidat bermandikan keringat, benda itu tak jua ditemukan. Saya menyerah dan akhirnya hanya membawa sebuah dompet panjang kulit berwarna hitam yang muat buat menampung beberapa kartu dan sebuah hape android. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *