Resep Ikan Nila By Mama Eni

By | October 24, 2019

Di kantor tempat saya bekerja, karyawannya hanya sekitar 40 an orang, kami saling mengenal satu sama lain dengan baik. Semua divisi bekerja dalam satu ruang dilantai yang sama, kecuali divisi sales yang berada didalam ruangan terpisah, itupun disekat dengan kaca tembus pandang sehingga kami bisa tetap memantau aktifitas satu sama lain. Kami cukup tahu mana karyawan yang pendiam dan jarang berinteraksi, mana karyawan yang rajin dan fokus dengan pekerjaannya masing-masing, mana karyawan yang hobi mengobrol dari pagi hingga malam, mana karyawan yang arogan dan bossy,  mana yang tukang complain, atau mana karyawan yang hobinya marah-marah dan memaki jika menemukan satu kesalahan divisi lain. Semua sifat dan kebiasaan tersebut terlihat jelas.

Pendapat saya, hampir semua karyawan cukup menyenangkan, tidak ada yang bersikap aneh atau menyebalkan, kecuali dua atau tiga karyawan di  divisi sales yang sepertinya menjadi momok kebanyakan orang yang bekerja. Sebagaimana perusahaan lainnya dimana tenaga pemasaran menjadi backbone perusahaan, maka di kantor saya pun begitu. Sales atau trader yang menjembatani nasabah melakukan transaksi beli dan jual saham di Bursa Efek melalui perusahaan broker adalah divisi yang mendatangkan pemasukan. Makin banyak mereka melakukan transaksi beli/jual saham, maka makin besar fee yang diterima oleh perusahaan. Tak heran jika sales dengan transaksi tertinggi dan mampu menghasilkan income besar cenderung arogan, ‘belagu’ dan bossy. Sejak saya bekerja di perusahaan jasa seperti ini entah itu asuransi atau sekuritas maka sales terbaik biasanya memang menyebalkan, walau tentu saja tidak semuanya seperti itu.

Untungnya rekan di manajemen risiko memiliki kesabaran seluas samudera dan enggan meladeni manusia bonek (bondho nekat)  semacam ini. Dia tidak memperpanjang urusan dan hanya menjawab singkat bagaimana caranya agar nasabah tetap bisa melanjutkan transaksinya. “Jawaban itu yang gue mau! Gue gak butuh lu bluffing sana-sini!” Mr. W pergi dengan muka penuh kepuasan dan kemenangan seakan baru saja menang lotere 1 triliun. Gubrak! Hari ini saya mendengar cerita dari rekan yang berada di dalam ruang saled betapa Mr. W berkoar-koar, “Gue marah-marahin tuh orang back office. Nggak ada yang berani sama gue”, katanya penuh rasa bangga. Diantara semua jenis sifat buruk manusia, arogan, sombong dan gila hormat adalah karakter yang menurut saya super mengerikan. Manusia-manusia seperti ini susah menghargai orang lain, merasa paling penting, paling hebat dan paling pintar. Begitu mudah menyerang orang lain terutama yang menurut dia lebih lemah posisi atau karakternya, seakan ada kepuasan tersendiri jika orang tersebut terlihat rendah dan ketakutan. Sialnya, manusia seperti ini makin banyak jumlahnya dimuka bumi, dan salah satunya ada dikantor tempat saya bekerja. Apes!

Kembali ke ikan palumara yang kali ini saya posting. Masakan ala Makasar atau Kendari ini memiliki bumbu simple, agar rasanya lezat maka ikan yang digunakan haruslah fresh. Saya menggunakan ikan nila yang masih hidup ketika dibeli, rasa dagingnya kenyal, manis dan tidak amis. Ikan air laut dan air tawar lainnya seperti gurami, mujair dan patin juga lezat diolah dalam kuah asam pedas seperti ini, tapi nila adalah ikan yang paling mudah ditemukan dalam kondisi masih hidup dan harganya lebih murah dibandingkan dengan gurami. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *