Resep Homemade Selai Kacang Pak ghani

By | April 19, 2019

Pengalaman saya berurusan dengan anak kecil alias balita tidaklah terlalu banyak, walau dulu ketika kedua adik lelaki saya, Tedy dan Dimas masih kecil, saya sering mengasuh mereka berdua. Jarak usia Tedy dan Dimas memang cukup jauh dengan kami, ketiga kakak perempuan, ketika Dimas masih bayi saya bahkan masih duduk di bangku kuliah. Tapi tentu saja mengasuh sesekali dengan rasa tanggung jawab yang tidak besar berbeda rasanya jika kita benar-benar menjadi orang tua. Walau saya terbilang suka dengan anak kecil, namun rasa suka itu muncul ketika si bocah sangat lucu, menggemaskan dan suka mengoceh. Tapi bagaimana jika bocah tersebut sedang mengamuk hebat? Hm, nanti dulu.
Tingkat rasa sabar saya memang agak tipis ketika menghadapi bocah yang sedang tantrum. Lebih tepatnya tingkat rasa sabar saya sebenarnya tipis untuk semua hal, namun menghadapi makhluk mungil yang tidak bisa diajak berbicara, tidak mau mendengar, meraung keras dan berguling-guling di lantai benar-benar menguji iman. ūüėĄ

Bocah yang saya maksudkan disini adalah keponakan lucu saya, Aruna. Bocah cilik ini adalah keponakan terkecil dan manusia termuda dalam jajaran keluarga besar kami. Usianya baru tiga tahun, namun tingkah polahnya jauh dari usianya. Aruna sangat mandiri, tidak mau dibantu untuk urusan apapun, termasuk ketika saya hendak mengantarkannya ke kamar Tedy, saat kami menginap di Hotel Mercure kala libur Lebaran lalu di Ancol. Jarak kamar saya dan Tedy sangat jauh, walau berada pada lorong yang sama namun lokasi kamar kami terletak pada dua ujung yang berbeda. Sepanjang lorong biasanya sangat sepi, kondisinya tidak terlalu terang, dan Aruna berteriak meminta saya tetap tinggal dikamar, jangan menemaninya ketika hendak saya kembalikan ke kamar ayahnya. 
“Una bisa pulang sendiri. Tante jangan antar!”¬†Perintahnya¬†bossy. Walau tingginya tidak sampai 100 cm namun bocah ini mampu membuat semua orang dewasa menuruti permintaan atau perintahnya.¬†“Nggak dong. Tante antar ke kamar ayah,”¬†balas saya. Saya belum terlalu gila membiarkan bocah cilik ini berjalan di lorong nan panjang sendirian, walau saya tahu, Una hafal dengan letak kamarnya sendiri.¬†“Nggak, nggak! Tante masuk kamar saja, tutup pintunya. Una mau pulang sendiri,”¬†selesai mengucapkan kalimat itu Aruna berlari kencang ke ujung lorong lainnya. Kaki-kakinya memang mungil, dan langkahnya tentu saja tidak sepanjang langkah kaki saya, tapi bagaimana mungkin dengan kaki semungil itu mampu membawa tubuhnya seakan terbang dan membuat saya terpontang-panting mengejarnya. Langkah kaki saya yang berat terdengar ‘bergedebukan” di lorong yang lengang, dan saya yakin para tamu hotel mengumpat kesal.¬†

Una adalah bocah yang sangat kompetitif, selalu meminta diperlakukan sama dengan kakaknya, untuk urusan apapun. Kami selalu membelikan pakaian atau benda-benda lain yang sama bentuk dan warnanya bagi  Kirana, sang kakak, dan Aruna. Jika berbeda, maka Aruna akan protes berat dan mengatakan tidak adil. Hari itu, Tedy bersama keluarganya baru saja selesai santap pagi di resto hotel. Mereka kembali ke kamar, dan adik saya menawarkan kepada Kirana kunci kamar berbentuk kartu untuk membuka kunci. Kirana langsung meraih kartu, memasukkannya ke dalam lubang kunci dan membuka pintu. Aruna melihat sang kakak yang mendapatkan ‘perlakuan istimewa’ ini langsung menjerit protes, “Una juga mau buka pintu. Ulangi, ulangi,” teriaknya keras. Tedy segera menutup pintu, menyerahkan kartu ke tangan putri bungsunya, berharap adegan membuka pintu akan diulang sekali lagi. Tapi bukan skenario itu yang ada di dalam kepala Una. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *